Managemant Function in Laboratory
Laboratorium merupakan suatu ruang atau tempat dilakukannya suatu percobaan atau penelitian tertentu. Ruang dimaksud dapat berupa lantai gedung yang dibatasi oleh dinding/ tembok/ kaca dan atap atau dapat juga alam terbuka, misalnya : Laboratorium Komputer, Laboratorium Bahasa, Laboratorium Kimia, merupakan contoh laboratorium yang berada di dalam suatu ruang khusus.
Beberapa materi pelajaran kimia/IPA berupa prinsip-prinsip dasar yang memerlukan pemahaman melalui pengalaman dan pengamatan langsung dalam laboratorium. Oleh karena itu keberadaan laboratorium di sekolah sangat penting dalam mendukung keberhasil-an pembelajaran IPA agar pemahaman anak didik terhadap materi menjadi utuh dan komprehensif.
Pembelajaran IPA pada umumnya merupakan pembelajaran yang mengembangkan ranah kognitif, afektif, sekaligus psikomotor secara simultan. Oleh karena itu rancangan pembelajaran IPA harus dapat memuat pengembangan ketiga ranah tersebut. Untuk mengembangkan ranah afektif dan psikomotor tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di kelas, tetapi perlu ditunjang dengan pembelajaran di luar kelas, baik dalam bentuk aktivitas proyek maupun aktivitas terarah berupa praktikum maupun eksperimen.
Beberapa materi pelajaran IPA berupa prinsip-prinsip dasar yang memerlukan pemahaman melalui pengalaman dan pengamatan langsung dalam laboratorium. Oleh karena itu keberadaan laboratorium di sekolah sangat penting dalam mendukung keberhasil-an pembelajaran IPA agar pemahaman anak didik terhadap materi menjadi utuh dan komprehensif.
Seperti diketahui, jam pelajaran / tatap muka untuk mata pelajaran IPA di sekolah sangat terbatas. Hal ini menyebabkan seorang guru kesulitan menempatkan pembelajaran kimia di laboratorium dalam jam efektif sesuai struktur program. Penempatan di luar jam efektifpun tidak mudah dilakukan, mengingat banyaknya kegiatan ekstrakurikuler dan penambahan jam pelajaran (les) untuk beberapa mata pelajaran tertentu yang diberlakukan di sekolah. Akibat dari semua ini, praktikum menjadi jarang dilakukan.
Menurut John W. Hansen & Gerald G. Lovedahl (2004) ”belajar dengan melakukan” merupakan sarana belajar yang efektif, artinya seseorang akan belajar efektif bila ia melakukan. Pemahaman peserta didik terhadap materi ajar akan lebih efektif jika ia tidak hanya memperoleh konsepnya, tetapi ia juga mampu menemukan konsep itu sendiri. Confucius menyatakan bahwa “what I do, I understand” (apa yang saya lakukan, saya paham (Mel Silberman, 2002 : 1), artinya ketika seorang guru banyak memberikan aktivitas yang bersifat keterampilan, maka anak didik akan memahaminya secara lebih baik, dan itu hanya dapat diperoleh melalui praktikum / eksperimen.
Penelitian yang dilakukan Amy J. Phelps & Cherin Lee (2003) yang dilakukan dari tahun 1990 – 2000 terhadap guru-guru baru yang mengajar kimia menunjukkan bahwa semua guru tersebut setuju bahwa mengajar kimia tidak dapat dilakukan tanpa laboratorium. Lebih lanjut dikatakan bahwa laboratorium adalah esensial untuk mengajar sains, termasuk kimia. Namun demikian, kompetensi kerja ilmiah seorang guru tidak hanya dapat diamati melalui cara mengajar atau cara guru mendemonstrasikan suatu percobaan di laboratorium, tetapi juga dapat ditinjau dari bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi ilmiah, mencip-takan percobaan sederhana yang dapat dilakukan siswa di rumah sebagai bentuk kreativitasnya, dan juga sikap dan nilai ilmiah yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Di Amerika Serikat sebuah institusi penghasil guru (semacam LPTK) menetapkan standar persyaratan bagi mahasiswanya untuk lulus dalam pelatihan laboratorium sebagai bekal ketika mereka nanti mengajar (Aldrin E. Sweeney & Jeffrey A. Paradis, 2003).
Pentingnya laboratorium dalam menunjang pembelajaran di kelas sangat diyakini oleh semua guru IPA. Namun kenyataannya, masih banyak sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas laboratorium, sehingga hal ini menjadi kendala dalam pelaksanaan praktikum di sekolah. Penelitian yang dilakukan Jiyono di lapangan menunjukkan masih banyaknya peralatan dan bahan kimia di laboratorium yang dikirimkan ke sekolah belum dimanfaatkan secara optimal (Ace Suryadi dan Tilaar, 1994 : 119). Hal ini memberikan infor-masi kepada kita bahwa bukan hanya keterbatasan fasilitas lab yang menjadi kendala pelaksanaan praktikum, tetapi pengelolaan lab yang berkaitan dengan bagaimana menyela-raskan kegiatan praktikum dengan materi praktikum dan ketersediaan alat dan bahan kimia juga relatif belum memadai.
Berkaitan dengan hal itu, maka perlu kiranya kita sebagai guru IPA untuk memahami dan menguasai cara-cara memanajemen / mengelola laboratorium secara baik dan tepat, meskipun di sekolah telah ada laboran maupun teknisi. Hal ini karena pengelolaan lab yang efektif sangat menentukan besar kecilnya kontribusi lab dalam proses pembela-jaran IPA, terutama pada pengembangan ranah afektif dan psikomotor. Apa saja yang perlu dikelola dan bagaimana cara mengelolanya ? Marilah pada kesempatan ini kita belajar bersama untuk mendapatkan bekal memanajemen / mengelola lab di sekolah kita masing-masing.
1. Pengertian Laboratorium
Menurut Direktorat Pendidikan Menengah Umum (1995:7), Laboratorium adalah tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun. Dalam pengertian yang terbatas laboratorium ialah suatu ruangan yang tertutup tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Selain itu, menurut Widyarti (2005:1) “Laboratorium adalah suatu ruangan tempat melakukan kegiatan praktek atau penelitian yang ditunjang oleh adanya seperangkat alat-alat Laboratorium serta adanya infrastruktur Laboratorium yang lengkap”. Kemudian, menurut Wirjosoemarto dkk (2004:40) “pada konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah seringkali istilah Laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum”
2. Fungsi/Peranan Laboratorium
Menurut Wirjosoemarto dkk (2004: 44) fasilitas Laboratorium adalah sebagai berikut: laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai Laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dan lain-lain.
Menurut Wicahyono (2003:30), untuk menentukan apakah suatu ruangan itu cocok atau tidak untuk dijadikan laboratorium, kita perlu memperhatikan beberapa hal seperti arah angin, dan arah datangnya cahaya. Apabila memungkinkan, ruangan Laboratorium sebaiknya terpisah dari bangunan ruangan kelas. Hal ini perlu untuk menghindari terganggunya proses belajar mengajar di kelas yang dekat dengan laboratorium akibat dari kegiatan yang berlangsung di laboratorium, baik suara atau bau yang ditimbulkan
3. Tujuan Penggunaan Laboratorium
Secara sempit laboratorium diartikan sebagai ruangan yang dibatasi oleh dinding yang di dalamnya terdapat alat-alat dan bahan-bahan beraneka ragam yang dapat digunakan untuk melakukan eksperimen (Subiyanto, 1998 : 79). Sudaryanto (1998 : 2) mendefinisikan laboratorium sebagai salah satu sarana pendidikan IPA, sebagai tempat peserta didik berlatih dan kontak dengan objek yang dipelajari secara langsung, baik melalui pengamatan maupun percobaan.
Lebih lanjut Sudaryanto (1998 : 7) menyatakan peranan dan fungsi laboratorium ada tiga, yaitu sebagai (1) sumber belajar, artinya lab digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor atau melakukan percobaan, (2) metode pendidikan, meliputi metode pengamatan dan metode percobaan, dan (3) sarana penelitian, tempat dilakukannya berbagai penelitian sehingga terbentuk pribadi peserta didik yang bersikap ilmiah.
Secara lebih umum laboratorium diartikan sebagai suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian (Depdikbud, 1994 : 7). Pengertian ini bermakna lebih luas, karena tidak membatasi laboratorium sebagai suatu ruangan, artinya kebun, lapangan, ruang terbukapun dapat menjadi laboratorium. Tujuan penggunaan laboratorium IPA bagi peserta didik antara lain :
a. mengembangkan keterampilan (pengamatan, pencatatan data, penggunaan alat, dan pembuatan alat sederhana).
b. melatih bekerja cermat serta mengenal batas-batas kemampuan pengukuran lab.
c. melatih ketelitian mencatat dan kejelasan melaporkan hasil percobaan.
d. melatih daya berpikir kritis analitis melalui penafsiran eksperimen.
e. memperdalam pengetahuan.
f. mengembangkan kejujuran dan rasa tanggungjawab.
g. melatih merencanakan dan melaksanakan percobaan lebih lanjut dengan menggunakan alat-alat dan bahan-bahan yang ada.
h. memberikan pengalaman untuk mengamati, mengukur, mencatat, menghitung, mene-rangkan, dan menarik kesimpulan.
Kesemua fungsi penggunaan laboratorium tersebut hanya dapat terwujud apabila kegiatan praktikum dipersiapkan, dirancang, dan dikelola sedemikian rupa sehingga lab benar-benar menjadi sarana penunjang keberhasilan proses pembelajaran sejalan dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tanpa ada manajemen yang baik terhadap lab yang dimiliki, maka semua fasilitas lab tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan dapat mengacaukan perhatian peserta didik, terjadi pemborosan waktu, tenaga, biaya yang menyertai berlangsungnya praktikum (Moh. Amien, 1997 : 4).
Dalam Peraturan Pemerintah No. 5 / 1980 Pasal 29 disebutkan bahwa laboratorium berfungsi untuk mempersiapkan sarana penunjang untuk melaksanakan pendidikan, pengajaran, dan penelitian dalam satu atau sebagian cabang ilmu, teknologi, atau seni tertentu sesuai dengan bidang studi yang bersangkutan.
4. Kriteria Baku Laboratorium
Laboratorium IPA harus dirancang dan dibangun dengan memenuhi kriteria baku yang mempertimbangkan unsur kesehatan, keamanan, peraturan-peraturan yang bertujuan agar laboratorium dapat memberi manfaat secara optimal dengan mengeliminasi resiko secara minimal.
Flinn (2004 : 1) menyatakan lima kriteria minimal yang harus dipenuhi oleh sebuah laboratorium kimia, yaitu (1) tata ruang, (2) sarana mebelair, (3) tempat penyimpanan bahan kimia, (4) peralatan darurat, dan (5) perlengkapan. Kriteria minimal tersebut harus dipenuhi untuk mengantisipasi terjadinya resiko. Sebagai contoh, tata ruang harus ditata sedemikian rupa sehingga guru dapat memantau setiap kegiatan peserta didik dalam laboratorium dari satu titik ruangan tersebut.
Ratna Wilis Dahar (1986 : 3) menyatakan ruang / prasarana laboratorium meliputi ruang untuk kegiatan belajar-mengajar, ruang persiapan, ruang gudang, ruang gelap, ruang timbang, dan ruang asam. Sedangkan sarana laboratorium meliputi meja, kursi, almari, alat pengaman, seperti pemadam kebakaran, botol-botol zat kimia, timbangan, papan tulis, daftar nilai besaran, sistem periodik unsur, tata tertib laboratorium, dan gambar model.
Menurut Hall (1986 : xi), alat-alat praktik IPA dibagi menjadi jenis kaca, porselin, logam, dan kayu. Secara umum alat-alat kimia / IPA terbuat dari kaca yang tahan panas dan zat kimia. Bahan gelas banyak jenisnya, tetapi yang umum digunakan adalah jenis borosilikat dan jenis soda lime. Borosilikat tahan terhadap perubahan suhu yang mendadak, tahan terhadap senyawa asam tetapi kurang tahan senyawa alkali. Sedangkan soda lime jika dipanaskan tidak menjadi kusam, lebih tahan terhadap senyawa alkali dibandingkan asam.
5. Manajemen Laboratorium IPA
Manajemen adalah kemampuan dan keterampilan khusus untuk melakukan suatu kegiatan, baik bersama orang lain maupun melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi (Sudjana, 2000 : 17). Manajemen juga diartikan sebagai proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu (The General Safety Committee, 1954 : 3). Dalam manajemen terkandung di dalamnya pengelolaan terhadap suatu objek. Jadi, manajemen laboratorium berarti objek yang akan dimanajemen adalah laboratorium tersebut yang secara rinci terdiri dari alat-alat dan bahan-bahan kimia, sarana / prasarana lab, dan proses pelaksanaan praktikum.
Fungsi manajemen adalah sebagai rangkaian kegiatan wajar yang telah ditetapkan dan memiliki hubungan saling ketergantungan antara satu dengan yang lain. Sejalan dengan perkembangan jaman, maka para pakar mengemukakan berbagai fungsi manajemen yang dikenal dengan POCCC, yaitu : Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Commanding (perintah), Coordinating (pengkoordinasian), dan Controlling (pengawasan).
Pendapat lain tentang fungsi manajemen ini dikemukakan oleh Gullick yang meliputi 6 urutan, yaitu Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, dan Budgeting (disingkat POSCORB). Hersey dan Blanchard membagi fungsi manajemen menjadi empat, yaitu Planning, Organizing, Motivating, dan Controlling (disingkat POMC). Pendapat lain dikemukakan oleh Terry (1977 : 18) yang mengemukakan fungsi manajemen menjadi empat, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling (disingkat POAC).
Berdasarkan keempat pendapat tersebut, maka pendapat yang paling tepat tentang manajemen laboratorium adalah pendapat Terry yang terdiri dari perencanaan, pengorgani-sasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Secara jelas kita bahas satu persatu berikut ini.
1) Perencanaan (Planning)
Dalam manajemen, perencanaan merupakan salah satu bagian yang sangat penting, karena perencanaan yang matang akan lebih memungkinkan tercapainya tujuan yang diharapkan. Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan cara dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut seefisien dan seefektif mungkin. Bateman dan Zeithami (1990 : 18) mengartikan perenca-naan sebagai proses menganalisis situasi, menetapkan tujuan yang akan dicapai di masa yang akan datang dan menentukan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan tersebut.
Dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang satu sama lain saling berhubungan. Ketiga kegiatan tersebut, yaitu : (1) perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan, dan (3) identifikasi dan pengerahan sumber daya yang tersedia. Perencanaan dapat pula dianggap suatu seri dari langkah-langkah atau tahapan yang dapat diikuti secara sistematis.
Perencanaan laboratorium kimia / IPA meliputi perencanaan dan pemeliharaan alat-alat dan bahan-bahan serta sarana / prasarana, perencanaan kegiatan yang akan dilaksana-kan, serta rencana pengembangan lab. Beberapa hal yang perlu direncanakan dalam manajemen laboratorium adalah :
a. Pengadministrasian Alat-alat dan Bahan-bahan Laboratorium
Tujuan pengadministrasian alat-alat dan bahan-bahan lab ini adalah agar dapat dengan mudah diketahui : (1) jenis alat atau bahan yang ada, (2) jumlah masing-masing alat dan bahan, (3) jumlah pembelian atau tambahan, dan (4) jumlah yang pecah, hilang, atau habis (Depdikbud, 1979 : 41). Untuk keperluan pencatatan alat dan bahan lab ini diperlukan format atau buku perangkat administrasi yang meliputi buku inventaris, kartu stok, kartu permintaan / pemin-jaman alat / bahan, buku catatan harian, kartu alat / bahan yang rusak, kartu reparasi, dan format label (Depdikbud, 1999 : 26). Buku lainnya yang dapat melengkapi perangkat administrasi antara lain daftar alat dan bahan yang sesuai dengan LKS, jadwal kegiatan lab, dan program semester kegiatan lab.
Buku inventaris alat dan bahan sebaiknya dibuat dari buku tulis folio yang diberi kolom-kolom, yaitu nomor katalog (dilihat dalam buku katalog alat pendidikan IPA, untuk mempermudah pengecekan), ukuran, nama alat / bahan, merk / type, produsen (pabrik pembuatnya), asal / tahun, tahun penggunaan, jumlah, baik / rusak (jumlah masing-masing alat / bahan yang baik atau rusak).
Kartu stok berguna untuk mengetahui jumlah alat / bahan yang tersedia ketika diperlukan dan dapat mengetahui tempat penyimpanan alat / bahan itu. Kartu ini dibuat dari sepotong kertas / karton dengan warna yang berbeda-beda untuk setiap kelompok alat. Satu kartu stok untuk satu jenis alat / bahan.
Label sebaiknya ditempelkan pada tempat penyimpanan alat / bahan (almari, laci, rak). Adanya label mempercepat pengambilan maupun pengembalian alat / bahan.
Kartu / formulir permintaan / peminjaman alat / bahan diisi oleh guru sebelum melakukan kegiatan lab sebagai pesanan alat / bahan yang diserahkan kepada laboran sekitar satu minggu sebelumnya, sehingga laboran memiliki waktu yang cukup untuk mem-persiapkannya.
Buku catatan harian bertujuan untuk mengetahui kejadian-kejadian selama berlang-sungnya kegiatan lab, seperti adanya alat yang rusak / hilang, percobaan yang gagal, se-hingga dapat digunakan sebagai dasar tindak lanjut penyelesaiannya. Buku ini diletakkan di lab dan harus diisi oleh setiap guru yang melakukan praktikum di lab dan sebulan sekali diperiksa Kepala Sekolah.
Kartu alat / bahan yang rusak diisi ketika terdapat alat atau bahan yang rusak, juga alat yang pecah bahkan yang retak. Kartu ini merupakan dasar untuk pemesanan alat / bahan yang harus dibeli di tahun pelajaran baru jika ada anggaran yang direncanakan.
Kartu reparasi digunakan untuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan alat yang direparasi. Melalui kartu ini dapat diketahui kapan terjadi kerusakan dan kapan direparasi, jenis kerusakan, dan komponen yang diganti / diperbaiki.
Daftar alat / bahan yang sesuai dengan LKS terdiri atas kolom-kolom jumlah alat / bahan yang diperlukan untuk setiap LKS dan jumlah yang tersedia setiap tahun.Daftar ini mempermudah kita dalam mengetahui apakah suatu LKS dapat dilaksanakan / tidak dan metode apa yang diterapkan. Sebagai contoh, jika alat / bahan yang tersedia tidak mencu-kupi untuk sejumlah kelompok yang telah dibuat, maka lebih baik dilakukan demonstrasi. Daftar ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan anggaran belanja di waktu mendatang.
Jadwal kegiatan laboratorium sebaiknya disesuaikan dengan jadwal pelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan fungsi praktikum, yaitu memantapkan pemahaman konsep yang diajarkan di kelas. Jangan sampai terjadi mata praktikum dengan materi yang diajarkan di kelas berbeda waktu terlalu jauh, karena itu berarti praktikum tidak efektif dalam membantu pemahaman konsep yang diajarkan di kelas. Bagi sekolah yang memiliki banyak kelas, jadwal praktikum harus dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi tumbukan antara kelas yang satu dengan yang lain. Penyusunan jadwal praktikum biasanya dilakukan oleh penanggung jawab teknis laboratorium.
Program semester kegiatan laboratorium dibuat masing-masing guru kimia / IPA pada awal semester untuk menentukan kapan kegiatan praktikum akan dilakukan selama satu semester. Program ini berkaitan erat dengan jadwal penggunaan lab dan persiapan alat / bahan yang akan digunakan.
b. Pengadaan Alat / Bahan Laboratorium
Untuk melengkapi atau mengganti alat / bahan kimia / IPA yang rusak, hilang, atau habis dipakai diperlukan pengadaan. Sebelum pengusulan pengadaan alat / bahan, maka perlu dipikirkan : (1) percobaan apa yang akan dilakukan, (2) alat / bahan apa yang akan dibeli (dengan spesifikasi jelas), (3) ada tidaknya dana / anggaran, (4) prosedur pembelian (lewat agen, langganan, beli sendiri), dan (5) pelaksanaan pembelian (biasanya awal tahun pelajaran baru) (Depdikbud, 1999 : 32).
Prosedur pengadaan dimulai dengan penyusunan alat / bahan yang akan dibeli yang dikumpulkan dari usulan masing-masing guru IPA yang dikoordinasi oleh penanggung jawab lab. Sebelum pembelian, hendaknya ditentukan terlebih dahulu di toko atau perusahaan mana alat / bahan itu akan dibeli. Sebaiknya setiap sekolah telah membuat jalinan kerja sama dengan perusahaan atau toko alat dan bahan kimia tertentu, sehingga akan memperoleh harga yang relatif murah dan sewaktu-waktu memerlukan tambahan alat / bahan kimia di luar jadwal pengadaan dapat dengan mudah dikontak dan disuplai.
c. Alokasi Dana Laboratorium
Bagi sekolah Negeri, sumber dana sekolah dibagi menjadi dua, yaitu dana dari Pemerintah yang umumnya berupa dana rutin (biaya operasional dan perawatan fasilitas) dan dana dari masyarakat yang dapat berasal dari orang tua peserta didik maupun sumbangan masyarakat luas / dunia usaha (Depdikbud, 1999 : 95).
Dana laboratorium diperoleh dari proyek OPF (Operasional dan Perawatan Fasilitas) yang dituangkan dalam APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) yang disediakan untuk membiayai kegiatan yang bersifat teknis edukatif dan kegiatan penunjang proses belajar-mengajar.
2) Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi laboratorium adalah suatu sistem kerja sama dari kelompok orang, barang, atau unit tertentu tentang laboratorium untuk mencapai tujuan (Sudaryanto, 1998 : 5) Mengorganisasikan laboratorium berarti menyusun sekelompok orang / petugas dan sumber daya lain untuk melaksanakan suatu rencana atau program dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara yang berdaya guna terhadap laboratorium. Pengorgani-sasian laboratorium meliputi pengaturan dan pemeliharaan alat-alat dan bahan-bahan laboratorium, pengadaan alat-alat dan bahan-bahan, dan menjaga kedisiplinan dan kesela-matan laboratorium.
Orang-orang yang terlibat langsung dalam organisasi lab adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, koordinator lab, penanggung jawab teknis lab, laboran, dan guru-guru mapel IPA (Kimia, Fisika, Biologi). Tugas Kepala Sekolah adalah memberikan bimbingan, motivasi, pemantauan, dan evaluasi kepada seluruh staf yang terlibat dalam pengelolaan lab, menyediakan dana keperluan operasional lab. Dalam menjalankan tugas ini dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum yang juga bekerja sama dengan koordinator lab dalam pelaksanaan kegiatan lab.
Tugas koordinator lab adalah mengkoordinasikan masing-masing guru mapel IPA segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan lab dan mengusulkan kepada penanggung jawab lab untuk pengadaan alat / bahan praktikum. Penanggung jawab teknis lab bertanggung jawab atas kelengkapan administrasi lab kelancaran kegiatan lab, mengusulkan kepada Kepala Sekolah tentang pengadaan alat / bahan lab, dan bertang-gung jawab atas kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan perbaikan alat-alat lab. Tugas laboran adalah mengerjakan administrasi lab, mempersiapkan alat / bahan yang diperlukan untuk praktikum, dan bertanggung jawab atas kebersihan alat / bahan dan ruangan lab beserta perlengkapannya sebelum dan sesudah praktikum.
Adapun struktur organisasi laboratorium kimia / IPA di SMK dapat digambar-kan sebagai berikut :
3) Pengawasan (Controlling)
Pengawasan atau sering disebut pula supervisi ditentukan oleh apa yang telah dilakukan, yaitu evaluasi terhadap tindakan dan bila perlu menggunakan pengukuran koreksi sehingga tindakan tersebut sesuai dengan rencana (Terry, 1977 : 481). Proses pengawasan terdiri atas beberapa tindakan pokok, yaitu : (1) penentuan ukuran / pedoman baku sebagai pembanding / alat ukur untuk menjawab pertanyaan dari hasil pelaksanaan, (2) penilaian / pengukuran terhadap tugas yang sudah atau yang sedang dikerjakan, baik secara lisan maupun tertulis, atau pertemuan langsung dengan petugas, (3) perbandingan antara pelaksanaan pekerjaan dengan ukuran / pedoman yang telah ditetapkan untuk mengetahui penyimpangan / perbedaan yang terjadi dan perlu tidaknya perbaikan, (4) perbaikan terhadap penyimpangan yang terjadi agar pekerjaan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Ada beberapa prinsip dasar pengawasan yang harus diterapkan agar manajemen laboratorium menjadi baik, yaitu :
a) Pengawasan bersifat membimbing dan membantu mengatasi kesulitan dan bukan mencari kesalahan. Kepala Sekolah harus menfokuskan perhatian pada usaha mengatasi hambatan yang dihadapi guru, bukan sekedar mencari kesalahan. Kekeliruan guru harus disampaikan Kepala Sekolah sendiri dan tidak di depan orang lain.
b) Bantuan dan bimbingan diberikan secara tidak langsung, artinya diupayakan agar yang bersangkutan mampu mengatasi sendiri, sedangkan Kepala Sekolah hanya membantu. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang pada akhirnya menumbuhkan motivasi kerja yang lebih baik.
c) Balikan atau saran perlu segera diberikan, agar yang bersangkutan dapat memahami dengan jelas keterkaitan antara balikan dan saran tersebut dengan kondisi yang dihadapi. Dalam memberikan balikan sebaiknya dalam bentuk diskusi, sehingga terjadi pembahasan terhadap masalah yang terjadi secara bersama.
d) Pengawasan dilakukan secara periodik / berkala, artinya tidak menunggu sampai terjadi hambatan. Jika tidak ada hambatan, kehadiran Kepala Sekolah akan dapat menumbuh-kan dukungan moral bagi guru yang sedang mengerjakan tugas.
e) Pengawasan dilaksanakan dalam suasana kemitraan, agar guru dengan mudah dan tanpa takut menyampaikan hambatan yang dihadapi, sehingga dapat segera dicari jalan keluarnya. Suasana kemitraan juga akan menumbuhkan hubungan kerja yang harmonis, sehingga tercipta tim kerja yang kompak.
Berdasarkan ulasan ini, ada beberapa hal yang perlu kiita diskusikan
1. Seberapa penting managemen laboratorium disekolah ?
2. Siapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA disekolah?
3. Apakah siswa bisa dilibatkan dalam manajemen tenaga labor di sekolah ?
Beberapa materi pelajaran kimia/IPA berupa prinsip-prinsip dasar yang memerlukan pemahaman melalui pengalaman dan pengamatan langsung dalam laboratorium. Oleh karena itu keberadaan laboratorium di sekolah sangat penting dalam mendukung keberhasil-an pembelajaran IPA agar pemahaman anak didik terhadap materi menjadi utuh dan komprehensif.
Pembelajaran IPA pada umumnya merupakan pembelajaran yang mengembangkan ranah kognitif, afektif, sekaligus psikomotor secara simultan. Oleh karena itu rancangan pembelajaran IPA harus dapat memuat pengembangan ketiga ranah tersebut. Untuk mengembangkan ranah afektif dan psikomotor tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di kelas, tetapi perlu ditunjang dengan pembelajaran di luar kelas, baik dalam bentuk aktivitas proyek maupun aktivitas terarah berupa praktikum maupun eksperimen.
Beberapa materi pelajaran IPA berupa prinsip-prinsip dasar yang memerlukan pemahaman melalui pengalaman dan pengamatan langsung dalam laboratorium. Oleh karena itu keberadaan laboratorium di sekolah sangat penting dalam mendukung keberhasil-an pembelajaran IPA agar pemahaman anak didik terhadap materi menjadi utuh dan komprehensif.
Seperti diketahui, jam pelajaran / tatap muka untuk mata pelajaran IPA di sekolah sangat terbatas. Hal ini menyebabkan seorang guru kesulitan menempatkan pembelajaran kimia di laboratorium dalam jam efektif sesuai struktur program. Penempatan di luar jam efektifpun tidak mudah dilakukan, mengingat banyaknya kegiatan ekstrakurikuler dan penambahan jam pelajaran (les) untuk beberapa mata pelajaran tertentu yang diberlakukan di sekolah. Akibat dari semua ini, praktikum menjadi jarang dilakukan.
Menurut John W. Hansen & Gerald G. Lovedahl (2004) ”belajar dengan melakukan” merupakan sarana belajar yang efektif, artinya seseorang akan belajar efektif bila ia melakukan. Pemahaman peserta didik terhadap materi ajar akan lebih efektif jika ia tidak hanya memperoleh konsepnya, tetapi ia juga mampu menemukan konsep itu sendiri. Confucius menyatakan bahwa “what I do, I understand” (apa yang saya lakukan, saya paham (Mel Silberman, 2002 : 1), artinya ketika seorang guru banyak memberikan aktivitas yang bersifat keterampilan, maka anak didik akan memahaminya secara lebih baik, dan itu hanya dapat diperoleh melalui praktikum / eksperimen.
Penelitian yang dilakukan Amy J. Phelps & Cherin Lee (2003) yang dilakukan dari tahun 1990 – 2000 terhadap guru-guru baru yang mengajar kimia menunjukkan bahwa semua guru tersebut setuju bahwa mengajar kimia tidak dapat dilakukan tanpa laboratorium. Lebih lanjut dikatakan bahwa laboratorium adalah esensial untuk mengajar sains, termasuk kimia. Namun demikian, kompetensi kerja ilmiah seorang guru tidak hanya dapat diamati melalui cara mengajar atau cara guru mendemonstrasikan suatu percobaan di laboratorium, tetapi juga dapat ditinjau dari bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi ilmiah, mencip-takan percobaan sederhana yang dapat dilakukan siswa di rumah sebagai bentuk kreativitasnya, dan juga sikap dan nilai ilmiah yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Di Amerika Serikat sebuah institusi penghasil guru (semacam LPTK) menetapkan standar persyaratan bagi mahasiswanya untuk lulus dalam pelatihan laboratorium sebagai bekal ketika mereka nanti mengajar (Aldrin E. Sweeney & Jeffrey A. Paradis, 2003).
Pentingnya laboratorium dalam menunjang pembelajaran di kelas sangat diyakini oleh semua guru IPA. Namun kenyataannya, masih banyak sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas laboratorium, sehingga hal ini menjadi kendala dalam pelaksanaan praktikum di sekolah. Penelitian yang dilakukan Jiyono di lapangan menunjukkan masih banyaknya peralatan dan bahan kimia di laboratorium yang dikirimkan ke sekolah belum dimanfaatkan secara optimal (Ace Suryadi dan Tilaar, 1994 : 119). Hal ini memberikan infor-masi kepada kita bahwa bukan hanya keterbatasan fasilitas lab yang menjadi kendala pelaksanaan praktikum, tetapi pengelolaan lab yang berkaitan dengan bagaimana menyela-raskan kegiatan praktikum dengan materi praktikum dan ketersediaan alat dan bahan kimia juga relatif belum memadai.
Berkaitan dengan hal itu, maka perlu kiranya kita sebagai guru IPA untuk memahami dan menguasai cara-cara memanajemen / mengelola laboratorium secara baik dan tepat, meskipun di sekolah telah ada laboran maupun teknisi. Hal ini karena pengelolaan lab yang efektif sangat menentukan besar kecilnya kontribusi lab dalam proses pembela-jaran IPA, terutama pada pengembangan ranah afektif dan psikomotor. Apa saja yang perlu dikelola dan bagaimana cara mengelolanya ? Marilah pada kesempatan ini kita belajar bersama untuk mendapatkan bekal memanajemen / mengelola lab di sekolah kita masing-masing.
1. Pengertian Laboratorium
Menurut Direktorat Pendidikan Menengah Umum (1995:7), Laboratorium adalah tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun. Dalam pengertian yang terbatas laboratorium ialah suatu ruangan yang tertutup tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Selain itu, menurut Widyarti (2005:1) “Laboratorium adalah suatu ruangan tempat melakukan kegiatan praktek atau penelitian yang ditunjang oleh adanya seperangkat alat-alat Laboratorium serta adanya infrastruktur Laboratorium yang lengkap”. Kemudian, menurut Wirjosoemarto dkk (2004:40) “pada konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah seringkali istilah Laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum”
2. Fungsi/Peranan Laboratorium
Menurut Wirjosoemarto dkk (2004: 44) fasilitas Laboratorium adalah sebagai berikut: laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai Laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dan lain-lain.
Menurut Wicahyono (2003:30), untuk menentukan apakah suatu ruangan itu cocok atau tidak untuk dijadikan laboratorium, kita perlu memperhatikan beberapa hal seperti arah angin, dan arah datangnya cahaya. Apabila memungkinkan, ruangan Laboratorium sebaiknya terpisah dari bangunan ruangan kelas. Hal ini perlu untuk menghindari terganggunya proses belajar mengajar di kelas yang dekat dengan laboratorium akibat dari kegiatan yang berlangsung di laboratorium, baik suara atau bau yang ditimbulkan
3. Tujuan Penggunaan Laboratorium
Secara sempit laboratorium diartikan sebagai ruangan yang dibatasi oleh dinding yang di dalamnya terdapat alat-alat dan bahan-bahan beraneka ragam yang dapat digunakan untuk melakukan eksperimen (Subiyanto, 1998 : 79). Sudaryanto (1998 : 2) mendefinisikan laboratorium sebagai salah satu sarana pendidikan IPA, sebagai tempat peserta didik berlatih dan kontak dengan objek yang dipelajari secara langsung, baik melalui pengamatan maupun percobaan.
Lebih lanjut Sudaryanto (1998 : 7) menyatakan peranan dan fungsi laboratorium ada tiga, yaitu sebagai (1) sumber belajar, artinya lab digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor atau melakukan percobaan, (2) metode pendidikan, meliputi metode pengamatan dan metode percobaan, dan (3) sarana penelitian, tempat dilakukannya berbagai penelitian sehingga terbentuk pribadi peserta didik yang bersikap ilmiah.
Secara lebih umum laboratorium diartikan sebagai suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian (Depdikbud, 1994 : 7). Pengertian ini bermakna lebih luas, karena tidak membatasi laboratorium sebagai suatu ruangan, artinya kebun, lapangan, ruang terbukapun dapat menjadi laboratorium. Tujuan penggunaan laboratorium IPA bagi peserta didik antara lain :
a. mengembangkan keterampilan (pengamatan, pencatatan data, penggunaan alat, dan pembuatan alat sederhana).
b. melatih bekerja cermat serta mengenal batas-batas kemampuan pengukuran lab.
c. melatih ketelitian mencatat dan kejelasan melaporkan hasil percobaan.
d. melatih daya berpikir kritis analitis melalui penafsiran eksperimen.
e. memperdalam pengetahuan.
f. mengembangkan kejujuran dan rasa tanggungjawab.
g. melatih merencanakan dan melaksanakan percobaan lebih lanjut dengan menggunakan alat-alat dan bahan-bahan yang ada.
h. memberikan pengalaman untuk mengamati, mengukur, mencatat, menghitung, mene-rangkan, dan menarik kesimpulan.
Kesemua fungsi penggunaan laboratorium tersebut hanya dapat terwujud apabila kegiatan praktikum dipersiapkan, dirancang, dan dikelola sedemikian rupa sehingga lab benar-benar menjadi sarana penunjang keberhasilan proses pembelajaran sejalan dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tanpa ada manajemen yang baik terhadap lab yang dimiliki, maka semua fasilitas lab tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan dapat mengacaukan perhatian peserta didik, terjadi pemborosan waktu, tenaga, biaya yang menyertai berlangsungnya praktikum (Moh. Amien, 1997 : 4).
Dalam Peraturan Pemerintah No. 5 / 1980 Pasal 29 disebutkan bahwa laboratorium berfungsi untuk mempersiapkan sarana penunjang untuk melaksanakan pendidikan, pengajaran, dan penelitian dalam satu atau sebagian cabang ilmu, teknologi, atau seni tertentu sesuai dengan bidang studi yang bersangkutan.
4. Kriteria Baku Laboratorium
Laboratorium IPA harus dirancang dan dibangun dengan memenuhi kriteria baku yang mempertimbangkan unsur kesehatan, keamanan, peraturan-peraturan yang bertujuan agar laboratorium dapat memberi manfaat secara optimal dengan mengeliminasi resiko secara minimal.
Flinn (2004 : 1) menyatakan lima kriteria minimal yang harus dipenuhi oleh sebuah laboratorium kimia, yaitu (1) tata ruang, (2) sarana mebelair, (3) tempat penyimpanan bahan kimia, (4) peralatan darurat, dan (5) perlengkapan. Kriteria minimal tersebut harus dipenuhi untuk mengantisipasi terjadinya resiko. Sebagai contoh, tata ruang harus ditata sedemikian rupa sehingga guru dapat memantau setiap kegiatan peserta didik dalam laboratorium dari satu titik ruangan tersebut.
Ratna Wilis Dahar (1986 : 3) menyatakan ruang / prasarana laboratorium meliputi ruang untuk kegiatan belajar-mengajar, ruang persiapan, ruang gudang, ruang gelap, ruang timbang, dan ruang asam. Sedangkan sarana laboratorium meliputi meja, kursi, almari, alat pengaman, seperti pemadam kebakaran, botol-botol zat kimia, timbangan, papan tulis, daftar nilai besaran, sistem periodik unsur, tata tertib laboratorium, dan gambar model.
Menurut Hall (1986 : xi), alat-alat praktik IPA dibagi menjadi jenis kaca, porselin, logam, dan kayu. Secara umum alat-alat kimia / IPA terbuat dari kaca yang tahan panas dan zat kimia. Bahan gelas banyak jenisnya, tetapi yang umum digunakan adalah jenis borosilikat dan jenis soda lime. Borosilikat tahan terhadap perubahan suhu yang mendadak, tahan terhadap senyawa asam tetapi kurang tahan senyawa alkali. Sedangkan soda lime jika dipanaskan tidak menjadi kusam, lebih tahan terhadap senyawa alkali dibandingkan asam.
5. Manajemen Laboratorium IPA
Manajemen adalah kemampuan dan keterampilan khusus untuk melakukan suatu kegiatan, baik bersama orang lain maupun melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi (Sudjana, 2000 : 17). Manajemen juga diartikan sebagai proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu (The General Safety Committee, 1954 : 3). Dalam manajemen terkandung di dalamnya pengelolaan terhadap suatu objek. Jadi, manajemen laboratorium berarti objek yang akan dimanajemen adalah laboratorium tersebut yang secara rinci terdiri dari alat-alat dan bahan-bahan kimia, sarana / prasarana lab, dan proses pelaksanaan praktikum.
Fungsi manajemen adalah sebagai rangkaian kegiatan wajar yang telah ditetapkan dan memiliki hubungan saling ketergantungan antara satu dengan yang lain. Sejalan dengan perkembangan jaman, maka para pakar mengemukakan berbagai fungsi manajemen yang dikenal dengan POCCC, yaitu : Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Commanding (perintah), Coordinating (pengkoordinasian), dan Controlling (pengawasan).
Pendapat lain tentang fungsi manajemen ini dikemukakan oleh Gullick yang meliputi 6 urutan, yaitu Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, dan Budgeting (disingkat POSCORB). Hersey dan Blanchard membagi fungsi manajemen menjadi empat, yaitu Planning, Organizing, Motivating, dan Controlling (disingkat POMC). Pendapat lain dikemukakan oleh Terry (1977 : 18) yang mengemukakan fungsi manajemen menjadi empat, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling (disingkat POAC).
Berdasarkan keempat pendapat tersebut, maka pendapat yang paling tepat tentang manajemen laboratorium adalah pendapat Terry yang terdiri dari perencanaan, pengorgani-sasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Secara jelas kita bahas satu persatu berikut ini.
1) Perencanaan (Planning)
Dalam manajemen, perencanaan merupakan salah satu bagian yang sangat penting, karena perencanaan yang matang akan lebih memungkinkan tercapainya tujuan yang diharapkan. Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan cara dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut seefisien dan seefektif mungkin. Bateman dan Zeithami (1990 : 18) mengartikan perenca-naan sebagai proses menganalisis situasi, menetapkan tujuan yang akan dicapai di masa yang akan datang dan menentukan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan tersebut.
Dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang satu sama lain saling berhubungan. Ketiga kegiatan tersebut, yaitu : (1) perumusan tujuan yang ingin dicapai, (2) pemilihan program untuk mencapai tujuan, dan (3) identifikasi dan pengerahan sumber daya yang tersedia. Perencanaan dapat pula dianggap suatu seri dari langkah-langkah atau tahapan yang dapat diikuti secara sistematis.
Perencanaan laboratorium kimia / IPA meliputi perencanaan dan pemeliharaan alat-alat dan bahan-bahan serta sarana / prasarana, perencanaan kegiatan yang akan dilaksana-kan, serta rencana pengembangan lab. Beberapa hal yang perlu direncanakan dalam manajemen laboratorium adalah :
a. Pengadministrasian Alat-alat dan Bahan-bahan Laboratorium
Tujuan pengadministrasian alat-alat dan bahan-bahan lab ini adalah agar dapat dengan mudah diketahui : (1) jenis alat atau bahan yang ada, (2) jumlah masing-masing alat dan bahan, (3) jumlah pembelian atau tambahan, dan (4) jumlah yang pecah, hilang, atau habis (Depdikbud, 1979 : 41). Untuk keperluan pencatatan alat dan bahan lab ini diperlukan format atau buku perangkat administrasi yang meliputi buku inventaris, kartu stok, kartu permintaan / pemin-jaman alat / bahan, buku catatan harian, kartu alat / bahan yang rusak, kartu reparasi, dan format label (Depdikbud, 1999 : 26). Buku lainnya yang dapat melengkapi perangkat administrasi antara lain daftar alat dan bahan yang sesuai dengan LKS, jadwal kegiatan lab, dan program semester kegiatan lab.
Buku inventaris alat dan bahan sebaiknya dibuat dari buku tulis folio yang diberi kolom-kolom, yaitu nomor katalog (dilihat dalam buku katalog alat pendidikan IPA, untuk mempermudah pengecekan), ukuran, nama alat / bahan, merk / type, produsen (pabrik pembuatnya), asal / tahun, tahun penggunaan, jumlah, baik / rusak (jumlah masing-masing alat / bahan yang baik atau rusak).
Kartu stok berguna untuk mengetahui jumlah alat / bahan yang tersedia ketika diperlukan dan dapat mengetahui tempat penyimpanan alat / bahan itu. Kartu ini dibuat dari sepotong kertas / karton dengan warna yang berbeda-beda untuk setiap kelompok alat. Satu kartu stok untuk satu jenis alat / bahan.
Label sebaiknya ditempelkan pada tempat penyimpanan alat / bahan (almari, laci, rak). Adanya label mempercepat pengambilan maupun pengembalian alat / bahan.
Kartu / formulir permintaan / peminjaman alat / bahan diisi oleh guru sebelum melakukan kegiatan lab sebagai pesanan alat / bahan yang diserahkan kepada laboran sekitar satu minggu sebelumnya, sehingga laboran memiliki waktu yang cukup untuk mem-persiapkannya.
Buku catatan harian bertujuan untuk mengetahui kejadian-kejadian selama berlang-sungnya kegiatan lab, seperti adanya alat yang rusak / hilang, percobaan yang gagal, se-hingga dapat digunakan sebagai dasar tindak lanjut penyelesaiannya. Buku ini diletakkan di lab dan harus diisi oleh setiap guru yang melakukan praktikum di lab dan sebulan sekali diperiksa Kepala Sekolah.
Kartu alat / bahan yang rusak diisi ketika terdapat alat atau bahan yang rusak, juga alat yang pecah bahkan yang retak. Kartu ini merupakan dasar untuk pemesanan alat / bahan yang harus dibeli di tahun pelajaran baru jika ada anggaran yang direncanakan.
Kartu reparasi digunakan untuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan alat yang direparasi. Melalui kartu ini dapat diketahui kapan terjadi kerusakan dan kapan direparasi, jenis kerusakan, dan komponen yang diganti / diperbaiki.
Daftar alat / bahan yang sesuai dengan LKS terdiri atas kolom-kolom jumlah alat / bahan yang diperlukan untuk setiap LKS dan jumlah yang tersedia setiap tahun.Daftar ini mempermudah kita dalam mengetahui apakah suatu LKS dapat dilaksanakan / tidak dan metode apa yang diterapkan. Sebagai contoh, jika alat / bahan yang tersedia tidak mencu-kupi untuk sejumlah kelompok yang telah dibuat, maka lebih baik dilakukan demonstrasi. Daftar ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk perencanaan anggaran belanja di waktu mendatang.
Jadwal kegiatan laboratorium sebaiknya disesuaikan dengan jadwal pelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan fungsi praktikum, yaitu memantapkan pemahaman konsep yang diajarkan di kelas. Jangan sampai terjadi mata praktikum dengan materi yang diajarkan di kelas berbeda waktu terlalu jauh, karena itu berarti praktikum tidak efektif dalam membantu pemahaman konsep yang diajarkan di kelas. Bagi sekolah yang memiliki banyak kelas, jadwal praktikum harus dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi tumbukan antara kelas yang satu dengan yang lain. Penyusunan jadwal praktikum biasanya dilakukan oleh penanggung jawab teknis laboratorium.
Program semester kegiatan laboratorium dibuat masing-masing guru kimia / IPA pada awal semester untuk menentukan kapan kegiatan praktikum akan dilakukan selama satu semester. Program ini berkaitan erat dengan jadwal penggunaan lab dan persiapan alat / bahan yang akan digunakan.
b. Pengadaan Alat / Bahan Laboratorium
Untuk melengkapi atau mengganti alat / bahan kimia / IPA yang rusak, hilang, atau habis dipakai diperlukan pengadaan. Sebelum pengusulan pengadaan alat / bahan, maka perlu dipikirkan : (1) percobaan apa yang akan dilakukan, (2) alat / bahan apa yang akan dibeli (dengan spesifikasi jelas), (3) ada tidaknya dana / anggaran, (4) prosedur pembelian (lewat agen, langganan, beli sendiri), dan (5) pelaksanaan pembelian (biasanya awal tahun pelajaran baru) (Depdikbud, 1999 : 32).
Prosedur pengadaan dimulai dengan penyusunan alat / bahan yang akan dibeli yang dikumpulkan dari usulan masing-masing guru IPA yang dikoordinasi oleh penanggung jawab lab. Sebelum pembelian, hendaknya ditentukan terlebih dahulu di toko atau perusahaan mana alat / bahan itu akan dibeli. Sebaiknya setiap sekolah telah membuat jalinan kerja sama dengan perusahaan atau toko alat dan bahan kimia tertentu, sehingga akan memperoleh harga yang relatif murah dan sewaktu-waktu memerlukan tambahan alat / bahan kimia di luar jadwal pengadaan dapat dengan mudah dikontak dan disuplai.
c. Alokasi Dana Laboratorium
Bagi sekolah Negeri, sumber dana sekolah dibagi menjadi dua, yaitu dana dari Pemerintah yang umumnya berupa dana rutin (biaya operasional dan perawatan fasilitas) dan dana dari masyarakat yang dapat berasal dari orang tua peserta didik maupun sumbangan masyarakat luas / dunia usaha (Depdikbud, 1999 : 95).
Dana laboratorium diperoleh dari proyek OPF (Operasional dan Perawatan Fasilitas) yang dituangkan dalam APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) yang disediakan untuk membiayai kegiatan yang bersifat teknis edukatif dan kegiatan penunjang proses belajar-mengajar.
2) Pengorganisasian (Organizing)
Organisasi laboratorium adalah suatu sistem kerja sama dari kelompok orang, barang, atau unit tertentu tentang laboratorium untuk mencapai tujuan (Sudaryanto, 1998 : 5) Mengorganisasikan laboratorium berarti menyusun sekelompok orang / petugas dan sumber daya lain untuk melaksanakan suatu rencana atau program dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara yang berdaya guna terhadap laboratorium. Pengorgani-sasian laboratorium meliputi pengaturan dan pemeliharaan alat-alat dan bahan-bahan laboratorium, pengadaan alat-alat dan bahan-bahan, dan menjaga kedisiplinan dan kesela-matan laboratorium.
Orang-orang yang terlibat langsung dalam organisasi lab adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, koordinator lab, penanggung jawab teknis lab, laboran, dan guru-guru mapel IPA (Kimia, Fisika, Biologi). Tugas Kepala Sekolah adalah memberikan bimbingan, motivasi, pemantauan, dan evaluasi kepada seluruh staf yang terlibat dalam pengelolaan lab, menyediakan dana keperluan operasional lab. Dalam menjalankan tugas ini dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum yang juga bekerja sama dengan koordinator lab dalam pelaksanaan kegiatan lab.
Tugas koordinator lab adalah mengkoordinasikan masing-masing guru mapel IPA segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan lab dan mengusulkan kepada penanggung jawab lab untuk pengadaan alat / bahan praktikum. Penanggung jawab teknis lab bertanggung jawab atas kelengkapan administrasi lab kelancaran kegiatan lab, mengusulkan kepada Kepala Sekolah tentang pengadaan alat / bahan lab, dan bertang-gung jawab atas kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan perbaikan alat-alat lab. Tugas laboran adalah mengerjakan administrasi lab, mempersiapkan alat / bahan yang diperlukan untuk praktikum, dan bertanggung jawab atas kebersihan alat / bahan dan ruangan lab beserta perlengkapannya sebelum dan sesudah praktikum.
Adapun struktur organisasi laboratorium kimia / IPA di SMK dapat digambar-kan sebagai berikut :
3) Pengawasan (Controlling)
Pengawasan atau sering disebut pula supervisi ditentukan oleh apa yang telah dilakukan, yaitu evaluasi terhadap tindakan dan bila perlu menggunakan pengukuran koreksi sehingga tindakan tersebut sesuai dengan rencana (Terry, 1977 : 481). Proses pengawasan terdiri atas beberapa tindakan pokok, yaitu : (1) penentuan ukuran / pedoman baku sebagai pembanding / alat ukur untuk menjawab pertanyaan dari hasil pelaksanaan, (2) penilaian / pengukuran terhadap tugas yang sudah atau yang sedang dikerjakan, baik secara lisan maupun tertulis, atau pertemuan langsung dengan petugas, (3) perbandingan antara pelaksanaan pekerjaan dengan ukuran / pedoman yang telah ditetapkan untuk mengetahui penyimpangan / perbedaan yang terjadi dan perlu tidaknya perbaikan, (4) perbaikan terhadap penyimpangan yang terjadi agar pekerjaan sesuai dengan apa yang direncanakan.
Ada beberapa prinsip dasar pengawasan yang harus diterapkan agar manajemen laboratorium menjadi baik, yaitu :
a) Pengawasan bersifat membimbing dan membantu mengatasi kesulitan dan bukan mencari kesalahan. Kepala Sekolah harus menfokuskan perhatian pada usaha mengatasi hambatan yang dihadapi guru, bukan sekedar mencari kesalahan. Kekeliruan guru harus disampaikan Kepala Sekolah sendiri dan tidak di depan orang lain.
b) Bantuan dan bimbingan diberikan secara tidak langsung, artinya diupayakan agar yang bersangkutan mampu mengatasi sendiri, sedangkan Kepala Sekolah hanya membantu. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang pada akhirnya menumbuhkan motivasi kerja yang lebih baik.
c) Balikan atau saran perlu segera diberikan, agar yang bersangkutan dapat memahami dengan jelas keterkaitan antara balikan dan saran tersebut dengan kondisi yang dihadapi. Dalam memberikan balikan sebaiknya dalam bentuk diskusi, sehingga terjadi pembahasan terhadap masalah yang terjadi secara bersama.
d) Pengawasan dilakukan secara periodik / berkala, artinya tidak menunggu sampai terjadi hambatan. Jika tidak ada hambatan, kehadiran Kepala Sekolah akan dapat menumbuh-kan dukungan moral bagi guru yang sedang mengerjakan tugas.
e) Pengawasan dilaksanakan dalam suasana kemitraan, agar guru dengan mudah dan tanpa takut menyampaikan hambatan yang dihadapi, sehingga dapat segera dicari jalan keluarnya. Suasana kemitraan juga akan menumbuhkan hubungan kerja yang harmonis, sehingga tercipta tim kerja yang kompak.
Berdasarkan ulasan ini, ada beberapa hal yang perlu kiita diskusikan
1. Seberapa penting managemen laboratorium disekolah ?
2. Siapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA disekolah?
3. Apakah siswa bisa dilibatkan dalam manajemen tenaga labor di sekolah ?
menanggapi pertanyaan nomor 2 yaitu: Siapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA disekolah?
BalasHapusYang terlibat dalam pengelolaan labor IPA ialah Kepala sekolah, Guru IPA, Kepala Labor, Teknisi/Laboran, peserta didik, dan Lingkungan Sekolah.
Salam
Agung Laksono
Menanggapi pertanyaan nomor 3, untuk menejemen tenaga labor disekolah mungkin tidak bisa kita ambil dari siswa, krn laboratorium harus dikelola oleh tenaga ahli untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan. Untuk siswa mungkin dapat kita tugaskan untuk saling mengawasi temannya saja dalam keselamatan praktikum, terimakasih
BalasHapus
BalasHapusMenanggapi soal no 2.
Kepala Sekolah
Memilih koordinator lab. IPA setiap dua tahun sekali.
Membimbing, memotivasi, memantau dan mengevaluasi kinerja pengurus lab. IPA.
Memotivasi guru-guru IPA dalam melaksanakan pembelajaran praktikum di sekolah.
Menyediakan dana keperluan operasional laboratorium IPA.
Wakasek Kurikulum
Berkoordinasi dengan koordinator lab. sekolah dan koordinator lab. IPA untuk menyusun program kegiatan pembelajaran di laboratorium yang sistematis, terencana dan berkelanjutan.
Bekerjasama dengan koordinator lab. IPA untuk menjamin kelancaran kegiatan belajar mengajar di laboratorium IPA
Wakasek Sarana dan Prasarana
Berkoordinasi dengan koordinator lab. sekolah dan koordinator lab. IPA untuk menyusun program pengadaan sarana dan prasarana di dalam laboratorium yang sistematis, terencana dan berkelanjutan.
Bekerjasama dengan koordinator laboratorium IPA untuk menjamin kelancaran kegiatan belajar mengajar di lab. IPA.
Koordinator Laboratorium Sekolah
Berkoordinasi dengan wakasek kurikulum, wakasek sarana dan prasarana dan dengan koordinator lab. IPA untuk menyusun program kerja di dalam laboratorium yang sistematis, terencana dan berkelanjutan.
Bekerjasama dengan masing-masing koordinator laboratorium untuk menjamin kelancaran kegiatan belajar mengajar di laboratorium IPA.
Koordinator Laboratorium IPA
Mengkoordinir guru mata pelajaran IPA (fisika, kimia,biologi) dalam membuat jadwal praktikum di laboratorium.
Mengusulkan kepada kepala sekolah dan koordinator laboratorium sekolah untuk pengadaan alat/bahan IPA berdasarkan matrikulasi yang dibuat oleh guru mata pelajaran IPA.
Guru Mata Pelajaran IPA
Melaksanakan pembelajaran berbasis praktikum di ruang lab. IPA.
Mengajukan daftar alat/bahan yang diperlukan untuk praktikum maksimal tiga hari sebelum pembelajaran praktikum dilaksanakan.
Laboran
Mengerjakan administrasi tentang alat/bahan yang ada di laboratorium IPA minimal setiap satu tahun sekali.
Mempersiapkan dan menyimpan kembali alat/bahan yang digunakan dalam pembelajaran.
Bertanggungjawab atas kebersihan alat dan ruang laboratorium beserta perlengkapannya.
Teknisi
Memperbaiki alat laboratorium yang rusak.
Bersama-sama dengan laboran merawat alat dan bahan yang ada di dalam laboratorium IPA.
1. Seberapa penting managemen laboratorium disekolah ?
BalasHapusmenurut saya managemen lab sangat penting untuk menunjang kinerja dan mtu leb disekolah. dengan manajemen lab maka sistem pembelajaran lab akan berjalan baik dan lancar
Menanggapi pertanyaan pertama Seberapa penting managemen laboratorium disekolah ?Sangat Penting.. Manajemen laborlah yg menentukan mutu sebuah laboratorium,jika manajemen labornya baik,maka mutu laboratorium akan ikt baik.. Keefektifitasan sebuah pembelajaran yg dalam hal ini praktikum juga akan ikt membaik. Jd semua hal yg berkaitan dengan labor akan terkait dengan manajemen labor tsb. Terimakasih
BalasHapusSiapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA disekolah
BalasHapusmenurut penddapat saya yang terlibat dalam pengelolaan labor disekolah dapat dikategorikan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok pengelola (sebagai sumber daya manusia) dan kelompok yang dikelola, yaitu bangunan laboratorium, fasilitas laboratorium, alat-alat laboratorium dan bahan-bahan laboratorium
Menurut pendapat saya yang terlibat dalam pengelolaan labor ipa adalah guru mata pelajaran,laboran, kepala sekolah dan dinas terkait
BalasHapusmenanggapi pertanyaan no.2 mengenai Siapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA disekolah?
BalasHapusmenurut saya, yang terlibat dalam pengelolaan labor Ipa adalah seluruh personel/staf yang terkait dalam pengelolaan lab ipa baik dari tingkatan tinggi hingga ke yang rendah, mulai dari dinas terkait, kepala sekolah, kepala lab, guru-guru ipa, laboran, tekhnisi hingga cleaning service, serta siswa juga harus dilibatkan dalam pengelolaan lab dalam menjaga dan merawat lab tsb.
Siapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA disekolah?
BalasHapusKepala sekolah, Guru IPA, Kepala Labor, Teknisi/Laboran, peserta didik, dinas terkait/pengawas dan Lingkungan Sekolah.
menanggapi pertanyaan No 3. Apakah siswa bisa dilibatkan dalam manajemen tenaga labor di sekolah ?
BalasHapuskalau menurut saya siswa tidak bisa dilibatkan didalam manajemen Tenaga Labor karena untuk menjadi tenaga manajemen labor harus dilakukan oleh tenaga ahli dibidangnya dalam konteks disini tenaga labor dan siswa blm memiliki hal tersebut baik itu keahlian didalam bidang labor maupun sejenis,konteks siswa disini sebagai seseorang yang ingin memperoleh pengetahuan didalam kegiatan Laboratorium
menagggapi pertanyaan no 2, siapa yang terlibat dalam pengelolaan labor IPA di sekolah?
BalasHapusMenurut saya yang terlibat dalam pengelolaan labor Ipa adalah guru mata pelajaran,laboran, kepala sekolah, peserta didik, dinas terkait/pengawas sekolah.
Menanggapi pertanyaan nomor 3. Menurut saya, siswa bisa saja dilibatkan dalam manajemen laboratorium sekolah bila dibutuhkan. Yang penting adalah siswa tersebut memahami dengan jelas apa saja yang menjadi tugas, tanggungjawab dan batasannya serta memahami komponen penting didalam laboratorium tersebut. Terima kasih.
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan nomor 2, Yang terlibat, Kepala sekolah, wakil sarana dan prasarana, kepala laboratorium, guru mata pelajaran, laboran
BalasHapusmenanggapi pertanyaan no 3, menurut saya siswa bisa dilibatkan dalam manajemen laboratorium untuk siswa yang memiliki kemampuan dalam bidang tersebut, siswa bisa dilatih atau diberikan sebuah tes terlebih dahulu sebelum menjadi tenaga lab. hal ini bisa menjadi bekal siswa untuk menjadi laboran mereka sudah terlatih dilingkungan lab.
BalasHapusAssalamualaikum wr.wb
BalasHapusYg terilbat dalam laboratorium adalah kepala sekolah, guru Ipa, laboran dan semua yg terlibat di dalam laboratorium dengab berkerja sama untuj meningkatkqn kualitas labor
Terima kasih